Sabtu, 20 Februari 2021

 

                               Mendaur Untuk Membaur

       

        Matahari yang terik membuat peluhku berjatuhan hingga membasahi setengah seragam sekolahku. Baru saja 3 menit aku berjalan kaki dari sekolah, langkahku terhenti melihat botol plastik kosong yang tepat berada didepan sepatuku. Saat aku membungkuk dan hendak memungut botol tersebut, tiba-tiba muncul di depanku seorang anak laki-laki bertubuh kecil menggenggam karung ditangan kanannya. Kira-kira umurnya sekitar 10 tahun terlihat dari postur badannya, kemudian dia menyapaku dengan ramah.

"Permisi kak, botolnya boleh buat aku aja? Maaf, tadi aku mau mengambil botol itu tapi keduluan sama kakak". Tanya anak kecil tersebut.

"Oh iya. Ini buat kamu aja, pasti mau kamu jual kan?" Sambil mengambil dan menyerahkan botol tersebut kurogoh saku seragamku dan mengeluarkan selembar uang Rp.10.000,-. Saat kusodorkan uang tersebut kearahnya, anak kecil itu langsung menepis pelan tanganku.

"Hehe.. maaf kak, aku bukan pemulung. Botol bekas ini sengaja aku kumpulkan untuk aku olah menjadi kerajinan tangan." Ucapan anak kecil itu membuat rasa penasaranku muncul.

"Kerajinan tangan? Boleh kakak tahu bentuk kerajinan tangan apa yang kamu maksud?" Tanyaku semakin penasaran pada anak tersebut.

"Boleh banget. Tapi aku lagi gak bawa kak, adanya digubuk semua. Kakak mau mampir ke gubuk kecilku?" Tanpa berpikir panjang langsung ku iyakan ajakan anak kecil tersebut.

"Mau!" Jawabku mantap. Kami pun berjalan kaki tak jauh dari tempat kami bertemu.

        Sesampai di gubuk anak kecil itu, dia pun bersuara dengan nada yg penuh semangat.

"Sampai kak, tapi aku mau beli lem sebentar. Kakak tunggu sendirian disini gakpapa kan?"

"Iya gakpapa." Jawabku singkat. Kemudian anak itu mengangguk dan pergi. Kulihat isi didalam gubuk tersebut, penuh dengan botol bekas, benang dan cat. Aku berjalan menyusuri gubuk tersebut hingga ke belakang. Tiba di belakang, mataku terbelalak melihat deretan pot-pot lucu yg terbuat dari botol plastik, aku ambil salah satu pot tersebut dan ku photo dengan kamera handphone ku. Tak berapa lama anak kecil itupun muncul didepanku.

"Eh kakak uda disini aja. Kenalin nama aku Sakti kak. Kakak uda lihat-lihat hasil karyaku ya. Hehe.." Ucap anak kecil tersebut sambil menyodorkan tangan kanannya ke arahku.

"Namaku Purnama. Dek, ini seriusan hasil karyamu?" Tanyaku sambil menjabat tangannya.

"Iya dong kak. Jadi gini, aku tuh dulu iseng. Botol yang aku kumpulkan untuk aku jual, malah aku ukir-ukir terus aku cat. Eh, setelah aku lihat hasilnya bagus. Aku keterusan buat ukiran dari botol plastik, trus aku dagangin di pasar siangnya pulang aku sekolah." Mendengar cerita dan semangat dari Sakti, aku jadi teringat Alm. Papa. Semasa hidupnya sering sekali mengumpulkan barang-barang bekas yang tidak terpakai lagi. Seperti bekas kotak eskrim yang dijadikannya wadah untuk kotak bekal. Botol minuman bekas yang

dicuci bersih dan dijadikan wadah kecap. Beliau selalu mengingatkanku untuk memanfaatkan barang yang terbuat dari plastik jika sudah habis isi didalamnya.

        Setelah pertemuanku dengan Sakti, membuat aku menjadi giat mengumpulkan botol plastik bekas lalu menyerahkan padanya. Tidak lupa aku promosikan kepada teman-temanku dan aku upload di social media, agar orang-orang membeli hasil karya Sakti yang begitu indah. Aku bersyukur ternyata didikan papa yang selalu mengingatkanku untuk menggunakan kembali barang bekas dari plastik, dan membuangnya jika benar-benar sudah tidak layak digunakan lagi. Itu sangat berpengaruh pada orang-orang kreatif seperti Sakti.

 

Nama                       : Imelda Amrita Sari Tambunan

Universitas              : STIE IGI Jakata

Instagram                : Imelamrita 

Alamat Email          : imeldatambunan17@ymail.com